Ahad, September 14, 2008

YANG MEMBERI SERIBU MAKNA PADA SEKEPING GAMBAR SEBARIS KATA



MENCARI KEHILANGAN

kaki yang menderapkan tapak di pinggir habour bridge
hanya mampu melihat rona petang
yang menoleh di belakang opera sydney
redup merah mentari yang mengintai di celah bumbungnya
hanya sekadar menelaah mimpi bangsa yang hanyut
di tengah hilau tawa warganya sendiri

kelip mata basah berisi sedu tak ternyata
hanyalah angan yang terpintal mengurung sepi
bayang mimpi yang menginsuk gelisah di belakang gelegar
ternyata bukanlah haknya yang pasti
tetapi masih beku menjadi milik mutlak pribumi
walau diungkit dengan seribu baris sejarah silam yang panjang

pasrah – hilang dirinya dicelah mentari senja sydney
adalah mimpi ngeri yang mengendung sejuta impian menggunung
menjunjung bangsa di tanah milik sendiri
di buminya tanah yang hilang sekangkang kera itu
masih memerah lembab menimbus maruah sendiri
dengan wajah sinis bangsa bumi dipijak ini

di mana dirinya menghilang?
masihkah berada di sebalik bumbung opera sydney
atau terus tergantung berayun di tengah-tengah tertegapnya
habour bridge yang menjadi kemegahan bangsa berdiri tegap itu
atau masih terus menggila mengilai di selimut mimpi yang masih panjang

mereka terus berjalan mengelilingi pusar angin senja
yang semakin sendu dan sayu hempasannya
tepat hinggap menyanggah dada warga asia yang masih berona
miskipun kalau di bumi sendiri siulan desir indah itu
hanya mengimbaskan helaian kertas tanpa sedikit pun menganjaknya

(masihkah ada ruang untuk mengejutkan sedar mimpi bangsa
yang terus menconteng walang)

Sydney, Australia
5 Mac 2006
Related Posts with Thumbnails